Kamis, 21 Februari 2013

Terapi Gangguan Kecemasan

Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan mereka. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan :
1.Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian ego dapat memberi perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih kreatif dan memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
2.Pendekatan-Pendekatan Humanistik
Para tokoh humanistik percaya bahwa kecemasan itu berasal dari represi sosial diri kita yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidaksadaran antara inner self seseorang yang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran. Oleh sebab itu terapis-terapis humanistik bertujuan membantu orang untuk memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya. Sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri mereka yang sesunggguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan bila perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan mereka mulai muncul ke permukaan.
3.Pendekatan-Pendekatan Biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi obat-obatan untuk mengobati gangguan kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine Valium dan Xanax (alprazolam). Meskipun benzodiazepine mempunyai efek menenangkan, tetapi dapat mengakibatkan depensi fisik.
Obat antidepresi mempunyai efek antikecemasan dan antipanik selain juga mempunyai efek antidepresi.
4.Pendekatan-Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak dibenarkan oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk membantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya kecemasan tersebut. Ada beberapa macam model terapi dalam pendekatan belajar, diantaranya :
a)Pemaparan Gradual
Metode ini membantu mengatasi fobia ataupun kecemasan melalui pendekatan setapak demi setapak dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik. Efektifitas terapi pemaparan sudah sangat terbukti, membuat terapi ini sebagai terapi pilihan untuk menangani fobia spesifik. Pemaparan gradual juga banyak dipakai pada penanganan agorafobia. Terapi bersifat bertahap menghadapkan individu yang agorafobik kepada situasi stimulus yang makin menakutkan, sasaran akhirnya adalah kesuksesan individu ketika dihadapkan pada tahap terakhir yang merupakan tahap terberat tanpa ada perasaan tidak nyaman dan tanpa suatu dorongan untuk menghindar. Keuntungan dari pemaparan gradual adalah hasilnya yang dapat bertahan lama. Cara Menanggulangi ataupun cara membantu memperkecil kecemasan:
b)Rekonstruksi Pikiran
Yaitu membantu individu untuk berpikir secara logis apa yang terjadi sebenarnya. biasanya digunakan pada seorang psikolog terhadap penderita fobia.
c)Flooding
Yaitu individu dibantu dengan memberikan stimulus yang paling membuatnya takut dan dikondisikan sedemikan rupa serta memaksa individu yang menderita anxiety untuk menghadapinya sendiri.
d)Terapi Kognitif
Terapi yang dilakukan adalah melalui pendekatan terapi perilaku rasional-emotif, terapi kognitif menunjukkan kepada individu dengan fobia sosial bahwa kebutuhan-kebutuhan irrasional untuk penerimaan-penerimaan sosial dan perfeksionisme melahirkan kecemasan yang tidak perlu dalam interaksi sosial. Kunci terapeutik adalah menghilangkan kebutuhan berlebih dalam penerimaan sosial. Terapi kognitif berusaha mengoreksi keyakinan-keyakinan yang disfungsional. Misalnya, orang dengan fobia sosial mungkin berpikir bahwa tidak ada seorangpun dalam suatu pesta yang ingin bercakap-cakap dengannya dan bahwa mereka akhirnya akan kesepian dan terisolasi sepanjang sisa hidup mereka. Terapi kognitif membantu mereka untuk mengenali cacat-cacat logis dalam pikiran mereka dan membantu mereka untuk melihat situasi secara rasional. Salah satu contoh tekhnik kognitif adalah restrukturisasi kognitif, suatu proses dimana terapis membantu klien mencari pikiran-pikiran dan mencari alternatif rasional sehingga mereka bisa belajar menghadapi situasi pembangkit kecemasan.
e)Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Terapi ini memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehnik-tehnik kognitif seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan yang mungkin dapat dikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial, gangguan stres pasca trauma, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan panik.
Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu menghadapi sendiri situasi tersebut
KESIMPULAN
Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau takut yang menyeluruh. Dan hal ini merupakan suatu kewajaran atau normal saja, akan tetapi bila hal ini terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Sedangkan gangguan kecemasan yang menyeluruh adalah suatu tipe gangguan kecemasan yang melibatkan kecemasan persisten yang sepertinya “mengapung bebas” (Free floating) atau tidak terikat pada suatu yang spesifik.
Ciri penderita gangguan kecemasan antara lain:
Ciri Fisik :
1. Gelisah
2. Berkeringat
3. Jantung berdegup kencang
4. Ada sensasi tali yang
mengikat erat pada kepala
5. Gemetar
6. Sering buang air kecil
Ciri Perilaku :
1. Perilaku menghindar
2. Perilaku dependen
Ciri Kognitif
1. Merasa tidak bisa
mengendalikan semua
2. Merasa ingin melarikan
diri dari tempat tersebut
3. Serasa ingin mati
Dalam perspektif psikodinamika, memandang kecemasan sebagai suatu usaha ego untuk mengendalikan munculnya impuls-impuls yang mengancam kesadaran. Dan perasaan-perasaan kecemasan adalah tanda-tanda peringatan bahwa impuls-impuls yang mengancam mendekat ke kesadaran. Ego menggerakkan mekanisme pertahanan diri untuk mengalihkan impuls-impuls tersebut yang kemudian mengarah menjadi gangguan-gangguan kecemasan lainnya. Namun para teoritikus belajar menjelaskan gangguan-ganguan kecemasan melalui pembelajaran observasional dan conditioning. Model dua faktor dari Mowrer memasukkan clasical dan operant conditioning dalam penjelasan tentang fobia. Meskipun demikian, fobia tampaknya dipengaruhi juga oleh faktor kognitif, seperti harapan-harapan self-efficacy. Prinsip-prinsip penguatan mungkin dapat membantu menjelasakan pola-pola tingkah laku obsesif-kompulsif. Kemungkinan ada predisposisi genetis untuk fobia tertentu yamng mempunyai nilai-nilai untuk kelangsungan hidup (survival) bagi nenek moyang kita terdahulu.
Ada beberapa faktor kognitif yang menyebabkan gangguan-gangguan kecemasan, seperti prediksi berlebih terhadap ketakutan, keyakinan yang self-defeating dan irasional, sensivitas berlebih mengenai sinyal-sinyal dan tanda-tanda ancaman, harapan-harapan self-efficacy yang terlalu rendah dan salah mengartikan sinyal-sinyal tubuh.
Untuk meminimalisir terjadinya kecemasan pada diri seseorang terdapat beberapa terapi. Psikoanalisis radisional membantu orang untuk mengatasi konflik-konflik tak sadar yang diyakini mendasari gangguan-gangguan kecemasan. Pendekatan-pendekatan psiko- dinamika yang modern lebih berfokus pada gangguan relasi yang ada dalam kehidupan klien saat ini dan mendorong klien untuk mengembangkan pola tingkah laku yang lebih adaptif. Terapi humanistik lebih berfokus pada membantu klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati dan bukan bereaksi pada kecemasan setiap kali perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya yang sejati mulai muncul ke permukaan. Sedangkan untuk terapi obat, berfokus pada penggunaan obat benzodiazepin dan obat-obat antidepresen (yang mempunyai efek lebih daripada hanya sebagai antidepresan).
Pendekatan-pendekatan dengan dasar belajar dalam menangani kecemasan melibatkan berbagai macam teknik behavioral dan kognitif-behavioral, termasuk terapi pemaparan, restrukturisasi kognitif, pemaparan dan pencegahan respon, serta pelatihan keterampilan relaksasi. Pendekatan-pendekatan kognitif seperti terapi tingkah laku rasional-emotif dan terapi kognitif, membantu orang untuk mengidentifikasi dan membetulkan pola-pola pikir yang salah yang melandasi reaksi-reaksi kecemasan. Untuk terapi kognitif-behavioral, menangani gangguan panik, melibatkan self-monitoring, pemaparan, dan pengembangan respons-respons adaptif terhadap sinyal-sinyal pembangkit kecemasan.

Efek Positif Bertengkar

Tak selamanya bertengkar itu berefek negatif. Sebuah studi terbaru menunjukkan, bertengkar itu justru baik bagi kesehatan bila dilakukan untuk alasan yang tepat.

Penelitian yang dilakukan Institute for Social Research di Universitas Michigan Amerika Serikat menunjukkan, ketika orang mengalami ketegangan dengan orang lain, entah itu dengan bos, pasangan atau anak, menghindari konfrontasi justru berakibat buruk bagi kesehatan mereka. Menghindari konflik dapat dikaitkan dengan problem fisik pada hari berikutnya dibanding pertengkaran di hari itu.

Sengaja menghindar dari pertengkaran juga dikaitkan dengan hormon stres atau kortisol yang naik turun secara tidak normal sepanjang hari.

"Hubungan memiliki pengaruh penting pada bagaimana kita merasa setiap hari, terutama masalah dalam hubungan kita. Bagaimana kita menangani masalah kita sehari-hari mempengaruhi kesejahteraan," kata Kira Birditt, peneliti yang mempublikasikan temuannya dalam Konvensi Tahunan Asosiasi Psikologi Amerika ke 118 pada 12 Agustus kemarin.

Riset sebelumnya menunjukkan, pasangan yang menikah dan menghindari pertengkaran kemungkinan meninggal lebih cepat dibanding pasangan yang lebih ekspresif. Studi lain menemukan, mengekspresikan kemarahan berperan dalam rasa kontrol dan optimisme yang tidak hadir pada mereka yang menanggapi pertengkaran itu dengan cara menakutkan.

Melawan atau diam
Dalam penelitiannya, Birditt dan timnya menemukan bahwa cara paling umum yang dilakukan orang-orang untuk menangani masalah-masalah interpersonal adalah menghindarinya. Para peneliti lalu mencoba mengungkap dampak kesehatan dari perilaku menghindar tersebut.

Dalam risetnya, peneliti menganalisis data 1.842 orang dewasa usia 33-84 yang ikut ambil bagian dalam studi bertajuk 'Nation Study of Daily Experiences'.
Sekali dalam sepekan, para peserta diminta mencatat apakah mereka terlibat pertengkaran atau pernah mengalami situasi di mana mereka berdebat tetapi memutuskan untuk membiarkannya berlalu tanpa perlawanan. Selain itu, peserta diharuskan memberi sampel air liur selama empat hari.

Hasilnya, sebanyak 62 persen mengatakan mereka mengesampingkan pertengkaran pada beberapa kejadian selama penelitian berlangsung. Sementara, 41 persen dilaporkan terlibat konflik dan sisanya 27 persen peserta tak mengalami tekanan.

Beberapa jenis tekanan yang dialami (apakah dihindari atau tidak) dilaporkan lebih merupakan emosi negatif, seperti rasa kesal atau marah, dan gejala fisik, termasuk mual atau sakit dan nyeri, ketimbang mereka yang tak mengalami konflik selama delapan hari. Meski demikian, menurut Birditt menghindari pertengkaran dikaitkan dengan memiliki gejala problem fisik di kemudian hari.

Stres
Menghindari pertengkaran juga dihubungkan dengan pola harian hormon kortisol yang menjadi tidak biasa. Biasanya, hormon kortisol seseorang mengalami puncaknya setelah bangun pagi, kemudian hormon stres menurun sepanjang hari.

Namun, pada orang-orang yang menghindari pertengkaran, hormon kortisol mereka mengalami peningkatan tajam di pagi hari dan penurunan hormon kortisolnya melambat. "Mereka(menghindari pertengkaran) tidak bisa merasa tenang seharian," kata Birditt.

Menariknya, para mereka yang bertengkar terlihat hormon kortisolnya merendah di pagi hari. Ini mungkin karena "Orang-orang yang sering bertengkar dan mengalami stres seiring dengan berjalannya waktu menjadi kurang reaktif terhadap tekanan," kata Birditt.
Pada dasarnya, mereka yang sering bertengkar kerap melepaskan tekanan secara teratur. Sedangkan mereka yang jarang bertengkar kerap memedam emosinya sehingga seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Analisis Prilaku Membolos

Berdasarkan kasus pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswa sekarang ini, diantaranya membolos pada saat jam sekolah masih berlangsung sering terjadi. Seperti yang ada pada harian “Kedaulatan Rakyat” tanggal 4 Desember 2008 menjelaskan tentang diadakanya sweeping pelajar guna menekan siswa-siswa yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dengan berkeliaran ditempat-tempat umum pada saat jam pelajaran, disambut positif oleh kepala SMK dan SMA di Yogyakarta dan Bantul.
Dalam kasus ini pemerintah muhammadyah 3 membentuk tim khusus untuk memantau keberadaan siswa di radius 2 s/d 4 Km diluar lingkungan sekolah pada saat jam-jam pelajaran sekolah sedang berlangsung. Kemudian akan memberikan sanksi kepada siswa-siswi yang terjaring diantaranya pemberian sanksi itu berupa, pemberian teguran, pemberian poin sampai memajang nama-nama siswa-siswi pelanggar tersebut dipapan pengumuman untuk memberi efek jera. Ungkapan serupa juga diungkapkan kepala SMKN 3 Kasihan Bantul (Sekolah Menengah Seni Rupa/SMSR) mengatakan sweeping yang dilaksanakan pemerintah daerah sangat diperlukan namun apabila hanyak pihak sekolah yang di berikan tanggung jawab penuh maka bisa maksimal oleh karena itulah perlu adanya bantuan masyarakat dan pemerinta daerah setempat.
Disini penulis beranggapan bahwa intervensi yang dilakukan dengan cara sweeping terhadap siswa-siswi yang terjaring membolos pada saat jam-jam sekolah cukup baik hanya saja penulis merasa bahwa hal-hal atau kegiatan seperti sweeping tersebut hanya akan mengurangi perilaku membolos para siswa-siswi tetapi tidak menghilangkan perilaku membolos tersebut dikarenakan siswa pasti akan berusaha untuk bisa menghindar dari sweeping tersebut.
Dengan kata lain perlu diadakanya intervensi-intervensi lain yang memungkinkan untuk dapat menghilangkan budaya atau kebiasaan membolos para siswa-siswi yang sedang gencar-gencarnya dalam dunia pendidikan di indonesia sekarang ini.
Penulis menganggap bahwa kasus atau masalah membolos siswa-siswi ketempat-tempat umum pada saat jam sekolah masih berlangsung adalah suatu hal yang sangatlah memperhatinkan dalam dunia pendidikan untuk memajukan sumberdaya manusia yang baik dan berkualitas khususnya di indonesia.
Oleh karena itu penulis akan mencoba mengkaji permasalah tersebut dan mencoba berargumentasi berdasarkan refrensi atau sumber-sumber yang berkompeten dan akan mencoba memberikan intervensi yang diharapkan membantu menghilangkan budaya atau kebiasaan membolos siswa-siswi.

ANALISIS KASUS

Membolos, menurut Hurlock terdapat dua jenis membolos. Yang pertama, anak absen disekolah tanpa sebab yang sah dan tanpa izin orang tua atau pimpinan sekolah. Mereka pergi sesuka hati mereka tanpa terlihat orang tua, tetangga atau guru, dan kepala sekolah. Mereka mungkin meninggalkan sekolah pada waktu siang hari, sambil mengeluh bahwa mereka “merasa tidak enak badan” atau bahwa orang tua menyuruh mereka pulang secepat mungkin. Karena selalu terdapat kemungkinan bahwa orang tua akan diberitahu bila seorang anak meninggalkan sekolah pada waktu siang, si pembolos biasanya tidak masuk sekolah sepanjang hari. Pada jenis membolos yang kedua, seorang anak biasanya meninggalkan sekolah sepengetahuan dan seizin dari orang tua. Ini sering kali halnya dengan anak yang berasal dari kelompok sosioekonomi rendah, yang orang tuanya sedikit menghargai pendidikan atau yang ingin anaknya membantu dirumah atau meninggalkan sekolah untuk sesegera mungkin mencari pekerjaan. Sebagian besar anak putus sekolah berasal dari kelompok ini.
Banyak hal-hal atau faktor yang mendorong anak sering membolos, tetapi disini penulis lebih tertarik terhadap beberapa faktor diantaranya adalah faktor minat, faktor perkembangan, faktor lingkungan sosial.

Faktor Minat
Disini Minat terhadap sekolah juga sangat berperan untuk anak terhadap kebiasaan membolos. Apabila minat anak terhadap sekolah baik maka perilaku tersebut tidak akan dilakukan si anak tersebut. Seperti hal nya membolos tersebut diatas adalah suatu gambaran bagaimana kurangnya minat dari anak terhadap sekolahnya sehingga dia akan menggunakan berbagai alasan dan upaya untuk meninggalkan sekolah. Penulis ingin mencoba merinci hal-hal yang dapat menghilangkan minat tersebut diantaranya faktor fisik sekolah (Gedung), guru, Aturan yang berlebihan, ketidakadilan, suasana lingkungan sekolah yang kurang kondusif, kurangnya kegiatan extra.

Faktor Perkembangan,
Dalam faktor ini perkembangan yang mempengaruhi perilaku membolos adalah perkembangan pada masa kanak-kanak yang menurut Hurlock terjadi pada masa perkembangan kreativitas, pada masa ini anak mempunyai beberapa cara yang paling umum digunakan anak untuk mengekspresikan kreativitasnya yaitu, Animisme, Bermain Drama, Permainan Konstruktif, Teman Imajiner, Melamun, Melucu, Bercerita. Dari kesemuanya itu Hurlock menerangkan perilaku membolos bisa dilihat pada saat anak melamun. Ada 3 kategori melamun yaitu melamun menjadi pahlawan super, melamun menjadi pahlawan yang menderita dan melamun menderita penyakit atau gangguan imajiner.
Membolos sekolah karena penyakit imajiner (ilegal) meningkat dengan menonjol pada saat awal remaja anak laki-laki dan perempuan, dalam Hurlock, (Diambil dari K.D. Rogers and G. Reese: Helath studies-presumably normal high school students.II. Absence from school. American Journal of Diseases Children, 1965, 109, 9-27.). Berdasarkan hal tersebut diatas penulis beranggapan bahwa untuk mengidentifikasikan perilaku tersebut bisa dilihat sejak usia dini tergantung dari orang tua si anak dalam membantu anak pada masa-masa tersebut.

Faktor Lingkungan sosial
Penulis beranggapan perilaku membolos tersebut juga di pengaruhi faktor-faktor sosial individu tersebut, baik faktor internal maupun eksternal. Lingkungan sosial akan berdampak sangat hebat dalam perilaku remaja, yang menurut Erikson remaja adalah masa-masa pencarian Identitas diri. Disini faktor konformitas sosial juga sangat berpengaruh khusunya dalam kohesivitas kelompok, dimana anggota-anggota kelompok cenderung tertarik kepada tugas-tugas kelompok, dan apabila aktivitas kelompok itu negatif seperti halnya membolos maka anak tersebut akan terpengaruh dan ikut membolos agar dianggap layak diterima dalam kelompok tersebut. Ada dua jenis sikap menurut Jung (dalam buka Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, Gerald Corey) menyatakan bahwa sikap ekstravert mengarahkan seseorang kepada dunia eksternal dan objektif sedangngkan Introvert mengarahkan seseorang kepada dunia internal dan subyektif. Atas dasar kedua sikap tersebut penulis menganggap bahwa individu yang ekstravert akan mudah diajak untuk membolos. Karena dia akan lebih mementingkan hal-hal yang ada disekitarnya saat itu.
Kembali pada kasus diatas tentang intervensi yang dilakukan dalam pembinaan pelanggaran kepada siswa-siswi yang membolos dengan cara melakukan sweeping pada jam-jam sekolah berlangsung adalah merupakan salah satu upaya pemerintah daerah dalam mengatasi perilaku membolos pada siswa-siswi sekarang ini. Penulis pun akan mencoba memberikan intervensi yang memiliki tujuan yang sama namun mungkin belum diterapkan pada saat sekarang ini.

INTERVENSI

Berdasarkan dari analisis kasus diatas penulis beranggapan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perilaku membolos tersebut dan jika hanya mengandalkan suatu intervensi seperti halnya sweeping akan kurang efektif namun penulis tidak mencela kegiatan yang sudah dilakukan tersebut, hanya saja disini penulis ingin menambahkan beberapa intervensi yang memungkin kan untuk tidak saja hanya mengurangi namun menghilangkan budaya membolos tersebut. Diantarnya yaitu :

Peran OrangTua
Disini peran orang tua diperlukan sebagai dasar atau landasan bagi si anak dalam berperilaku kelak. Orang tua diharapkan mampu mengoptimalisasikan tahap-tahap perkembangan anaknya serta menaruh perhatian khusus terhadap proses perkembangan anak terhindar dari maladptive khususnya dalam perkembangan kognitif anak tersebut, disarankan orang tua selalu membantu anak dalam memberikan pengertian-pengertian, norma-norma dalam kognisi si anak dan mau mendengarkan apa yang diungkapkan oleh anak.
Orangtua juga harus memperhatikan kebutuhan si anak, menanamkan sesuatu yang positif tentang sekolah dan pentingnya pendidikan saat usia dini. Sehingga pada saat anak tersebut masuk masa-masa sekolah anak mempunyai persepsi yang baik terhadap sekolah.
Orangtua juga tidak boleh memaksakan semua yang dikehendakinya dilakukan oleh si anak, tetapi orangtua harus mengetahui minat anak dan bakat anak tersebut mungkin bisa dengan cara meminta bantuan ke psikolog dalam hal ini. Pada saat pemilihan sekolah atau jurusan pun sebaiknya kembali dirundingkan dengan si anak, apakah sesuai dengan minat anak tersebut atau tidak. Dan yang tak kalah penting memperhatikan lingkungan pergaulan si anak, disini sesuai dengan konsep utama Adler tentang pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat berperan penting dalam perkembangan gaya hidup si anak tersebut.

Peran sekolah dan Guru
Peran sekolah yang diperlukan sebagai suatu intervensi adalah dengan membuat aktifitas-aktifitas ekstra kulikuler yang beragam, tidak terlalu menekan siswa terhadap aturan-aturan yang justru akan membuat anak tersebut berusaha melanggarnya dengan berbagai alasan, merenovasi gedung sekolah, ruang kelas, halaman sekolah, fasilitas-fasilitas akademik dan non akademik, sehingga membuat anak merasa betah dan nyaman berada dilingkungan sekolah(meningkatkan sarana dan prasarana).
Sedangkan peran guru adalah sebagai motivator terhadap siswa-siswi. Guru dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut teacher itu memang memiliki makna sederhana, yakni A person whose occupation is teaching others (McLeod, 1989, dalam psikologi pendidikan dengan pendekatan baru Muhibbidin Syah).
Tetapi disini penulis mencoba menjelaskan arti guru lebih mendalam yaitu, guru sebagai seorang figur yang dapat membantu, mendidik baik dalam segi moral, etika, serta memotivasi dan menjadi contoh untuk siswa-siswi dalam proses pencarian suatu identitas diri.
Oleh karena itulah penulis ingin menjelaskan bahwa guru berperan untuk bisa membuat anak menghilangkan perilaku membolosnya, dalam hal ini guru diharapkan mampu bertindak Adil, pandai memilih metode dalam mengajar sesuai dengan yang cocok untuk siswa, membawa suasana kelas positif, serta mau mendengarkan segala keluhan siswa-siswi yang sedang mempunyai masalah. Dengan begitu siswa akan senang berada disekolah dengan alasan bahwa disekolah dia bisa mendapatkan apapun baik secara fisik maupun psikis serta menganggap sekolah tersebut adalah rumah kedua bagi dirinya.

10 Tips Meningkatkan Daya Kreativitas

“Creativity can solve almost any problem. The creative act, the defeat of habit by originality overcomes everything. – Kreativitas dapat memecahkan hampir semua masalah. Tindakan kreatif, sikap kuat yang pada dasarnya mengatasi semuanya.”
George Lois (Designer, penulis, dan pemimpin periklanan berkebangsaan Amerika)

Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang menghasilkan kreativitas. Kreativitas tidak selalu menghasilkan produk konkrit, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, diantaranya berupa ide. Kreativitas sangat penting untuk menyiasati segala keterbatasan yang kita miliki, memecahkan masalah pada berbagai aspek kehidupan, sekaligus menghasilkan peluang atau karya baru untuk memudahkan kehidupan kita.
Sebenarnya, sejak dilahirkan setiap orang memiliki daya kreativitas yang cukup tinggi dalam DNA-nya. Tetapi yang menyedihkan, tekanan hidup seiring proses pertambahan usia ternyata menekan daya kreativitas tersebut. Stres akibat mengalami tantangan kehidupan sehari-hari maupun dilema, membuat daya kreativitas kita berangsur kering. Namun daya kreativitas itu ternyata juga dapat diasah dan kembali ditingkatkan, berikut ini beberapa tips-nya.
Pertama adalah menciptakan tujuan yang jelas, agar dapat menghasilkan ide-ide yang jelas juga. Setelah itu, fokus dalam melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Betapapun cemerlang ide-ide kreatif yang Anda hasilkan nantinya tidak akan bernilai jika belum dilaksanakan atau diuji. Jadi Anda akan menjadi lebih kreatif dengan selalu menciptakan tujuan dan kegigihan mencapai tujuan itu.
Selanjutnya cara meningkatkan daya kreativitas adalah mempelajari kemampuan fundamental yang Anda butuhkan. Berusahalah menyerap ilmu pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin di bidang yang sangat Anda minati, misalnya di bidang perdagangan, motivasi, bahasa, kedokteran, tehnik, dan lain sebagainya. Semakin banyak hal yang Anda ketahui, semakin mudah Anda ciptakan kreativitas yang bernilai jual tinggi. Salah satu contoh adalah Soegiharto Sosrodjojo, berpuluh tahun menggeluti dunia pertanian dan produksi teh kemudian menciptakan teh botol dan sekarang menjadi jutawan yang memimpin Sosro Group.
Syarat lain untuk meningkatkan daya kreativitas adalah setiap hari fokus pada satu aktivitas kreatif. Misalnya Anda ingin kreatif dalam bidang desain pakaian, lakukan aktifitas kreatif walaupun hanya berupa goresan sketsa sederhana atau satu bagian sulaman. Langkah itu selain membuat Anda lebih menikmati dan terbiasa, tetapi juga meningkatkan daya kreativitas Anda seiring bertambahnya pengalaman dan ilmu yang terus bertambah setiap hari.
Biasanya kreativitas seketika muncul pada saat seseorang keluar dari zona nyaman. Sebab pada saat itu ia terdesak untuk segera mendapatkan solusi atas masalah-masalah yang sedang dihadapi. Cobalah mengimajinasikan suatu keadaan dimana Anda berada dalam kondisi terdesak dan kemudian tulislah apa yang ada dalam pikiran Anda. Beberapa diantara imajinasi tersebut mungkin dapat menjadi ide kreatif andalan. Bila kebiasaan tersebut terus diulang, maka Anda akan terlatih atau terbiasa menciptakan aneka kreativitas.
Atau sesekali biarkan pikiran Anda bebas berimajinasi, sebab itu akan mengembangkan kreativitas. Imajinasi seringkali memunculkan ide-ide sederhana, tetapi unik dan bernilai tinggi. Lauren Bacall mengatakan, “Imagination is the highest kite one can fly. – Imajinasi adalah layang-layang tertinggi yang mampu diterbangkan manusia.”
Daya kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan cara mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan pengalaman. Lakukan setiap proses mencoba hal baru itu sebagai sebuah permainan, sehingga Anda merasa senang melakukannya, serta lebih siap menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Perasaan senang itu merupakan kunci meningkatkan daya kreativitas.
Motivasi non material merupakan kekuatan dari dalam diri sendiri untuk menciptakan kreativitas. Motivasi tersebut menjadikan seseorang mampu berpikir lebih jenius dan memiliki semangat lebih besar dalam berusaha. Sebab motivasi tersebut bukan didasari keinginan untuk mendapatkan imbalan atau karena kompetisi, melainkan motivasi untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan jika mampu menakhlukkan tantangan dan berhasil menciptakan kreativitas.
Sementara itu, bukan hanya bakat yang Anda butuhkan untuk menjadi kreatif. Dalam menciptakan kreativitas butuh ketekunan, semangat, kedisiplinan, dan kegigihan. Keempat hal tersebut akan membantu Anda terus berusaha menyiasati keterbatasan, mencari solusi bekerja dan lebih efisien hingga berhasil menciptakan karya luar biasa atau ide-ide cemerlang.
Anda juga akan lebih kreatif jika Anda percaya bahwa Anda kreatif. Seorang peneliti pernah melakukan survei kepada sekelompok karyawan. Beberapa karyawan yang kreatif ternyata percaya bahwa mereka kreatif. Sedangkan sebagian lagi yang tidak kreatif itu percaya bahwa mereka tidak kreatif. Artinya, apapun yang Anda percaya adalah benar dan dapat menjadi kenyataan, termasuk jika Anda percaya bahwa Anda kreatif.
Orang kreatif juga selalu bersedia mengevaluasi ide-ide mereka sendiri secara jujur. Untuk itu Anda jangan segan untuk meminta pendapat dan saran dari orang lain, terutama dari mereka yang cukup ahli di bidang mereka dan dapat dipercaya. Bila Anda selalu melakukan evaluasi atas kreativitas yang Anda hasilkan, maka dapat dipastikan Anda akan mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi atau benar-benar dapat memecahkan suatu masalah.
Kreativitas yang positif, artinya tidak keluar dari nilai-nilai moralitas, itu sangat penting karena menyokong kemajuan dan mempermudah hidup kita semua. Terlebih untuk menghadapi kehidupan yang sangat dinamis dan penuh masalah ini, kita semua harus bisa bersikap dan berpikir lebih kreatif. Walaupun tingkat kreativitas Anda mungkin tidak setinggi kreativitas milik B. J. Habibi, Rendra, atau penyanyi & pencipta lagu seperti Mbah Surip, tetapi saya yakin pasti Anda dapat menjadi lebih kreatif dengan cara Anda dan di bidang Anda sendiri.

Pengertian dan Kateristik Kesehatan Mental

Mental hygiene merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan Pencegahan dari kemungkinan timbulanya kerusakan mental atau malajudjusment. Kesehatan mental terkait dengan (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan menjalani kehidupan sehari-hari; (2) bagaimana kita memandang diri sendiri dan sendiri dan orang lain; dan (3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan. Seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental sangat penting bagi setiap fase kehidupan. kesehatan mental meliputi upaya-upaya mengatasi stres, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan.
Kesehatan mental tertentang dari yang baik sampai dengan yang buruk, dan setiap orang akan mengalaminya. tidak sedikit orang, pada waktu-waktu tertentu mengalami masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupannya. Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerjasama satu sama lain sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).
  1. Hadfield : ”upaya memeliharaan mental yang sehat dan mencegah agar mentak tidak sakit”. 
  1. Alexander Schneiders : ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 
  1. Carl Witherington : ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”.
KARAKTERISTIK MENTAL YANG SEHAT
1. Terhindar dari Gangguan Jiwa
Zakiyah Daradjat (1975) mengemukakan perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa (psikose), yaitu:
  1. Neurose masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psikose tidak. 
  1. Neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. sedangkan yang kena psikose kepribadiaannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas, dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
2. Dapat menyesuaikan diri
Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/ memenuhi kebutuhan (needs satisfaction), dan mengatasi stres, konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu. Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama.
3. Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam kegiatan-kegiatan belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga.
4. Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa tidak mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di atas kerugian orang lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai kebahagiaan bersama.

Penyakit Jantung Koroner

Jantung merupakan organ muskular berongga yang bentuknya mirip piramid dan terletak di dalam pericardium di mediastinum. Permukaan jantung ada tiga yaitu facies sterno costalis (anterior), facies diapragmatica (inferior) dan basis cordis (facies posterior), jantung juga mempunyai apex yang arahnya kebawah, depan dan kiri.
Ruang-ruang jantung ada empat yang terdiri dari atrium dextrum, atrium sinistrum, ventriculus dexter, dan ventriculus sinister. Dinding jantung terdiri atas lapisan tebal otot jantung myocardium, yang dibungkus dari luar oleh epicardium dan dibatasi sebelah dalam oleh endocardium.(Richard,2006)
Sistim konduksi jantung, umumnya jantung  berkontraksi secara ritmik sekitar 70 sampai 90 denyut permenit pada orang dewasa dalam keadaan istirahat. Kontraksi ritmik berasal secara spontan dari sistim konduksi, impuls jantung berasal dari nodus sinoatrialis (SA) sebagai pemacu alami jantung, impuls jantung kemidian menyebar dari nodus SA melalui jalur konduksi khusus atrium dan ke otot atrium. Jalur internodal, jalur anterior, tengah dan posterior menhubungkan nodus SA dengan nodus atrioventrikularis (AV).(Sylvia,2006).
Jantung mendapatkan darah dari arteria coronaria dextra dan sinistra yang berasal dari aorta ascendens, arteria coronaria dan cabang-cabang utamanya terdapat dipermukaan jantung, terletak di dalam jaringan ikat subepicardial.(Richard,2006)
Katup jantung berfungsi untuk mempertahankan aliran darah searah melalui bilik-bilik jantung. Ada dua jenis katup atrioventrikularis yaitu katup trikuspidalis terletak antara atrium dan ventrikel kanan yang mempunyai tiga buah daun katup. Sedangkan katup mitralis yang memisahkan atrium dan ventrikel kiri mempunyai dua buah daun katup. Katup semilunaris yaitu katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta, katup pulmonalis terletak antara ventrikel kanan dan arteria pulmonalis (Sylvia,2006).
Penyakit Arteri Koroner / penyakit jantung koroner (Coronary Artery Disease) ditandai dengan adanya endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding suatu arteri koroner dan menyumbat aliran darah. Endapan lemak (ateroma atau plak) terbentuk secara bertahap dan tersebar di percabangan besar dari kedua arteri koroner utama, yang mengelilingi jantung dan menyediakan darah bagi jantung. Proses pembentukan ateroma ini disebut aterosklerosis. Ateroma bisa menonjol ke dalam arteri dan menyebabkan arteri menjadi sempit. Jika ateroma terus membesar, bagian dari ateroma bisa pecah dan masuk ke dalam aliran darah atau bisa terbentuk bekuan darah di permukaan ateroma tersebut. Supaya bisa berkontraksi dan memompa secara normal, otot jantung (miokardium) memerlukan pasokan darah yang kaya akan oksigen dari arteri koroner. Jika penyumbatan arteri koroner semakin memburuk, bisa terjadi iskemi (berkurangnya pasokan darah) pada otot jantung, menyebabkan kerusakan jantung (Medicastore, 2009).
Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian paling tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri tampaknya bukan merupakan faktor penting dalam gaya hidup seseorang.
Secara spesifik, faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit arteri koroner adalah : diet kaya lemak, merokok, malas berolah raga (
Medicastore, 2009).
Sedangkan menurut Medicastore (2009), penyakit jantung koroner disebabkan oleh adanya penyempitan dan penyumbatan di pembuluh arteri koroner. Hal ini disebabkan oleh penumpukan zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) di dinding pembuluh nadi bagian paling bawah (endotelium). Setelah lemak menumpuk, aliran darah akan tersumbat dan tak mampu menuju jantung sehingga mengganggu kerja jantung dalam memompa darah. Efek yang paling dirasakan adalah hilangnya pasokan oksigen dan nutrisi menuju jantung karena aliran darah ke jantung berkurang.
Gejala dari penyakit jantung koroner menurut (Medicastore, 2009) adalah sebagai berikut :
a.       Nyeri dada (angina). Anda mungkin merasa tekanan atau sesak di dada, seolah-olah seseorang sedang berdiri di dada Anda. Rasa sakit, yang disebut sebagai angina, biasanya dipicu oleh tekanan fisik atau emosional. Hal itu biasanya hilang dalam beberapa menit setelah menghentikan aktivitas yang menyebabkan tekanan. Pada beberapa orang, terutama perempuan, nyeri ini mungkin sekilas atau tajam dan terasa di perut, punggung, atau lengan.
b.      Sesak napas. Jika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh Anda, Anda dapat mengalami sesak napas atau kelelahan ekstrem tanpa tenaga .
c.       Serangan jantung. Jika arteri koroner menjadi benar-benar diblokir, Anda mungkin mengalami serangan jantung. Gejala klasik serangan jantung termasuk tekanan yang menyesakkan dada dan sakit pada bahu atau lengan, kadang-kadang dengan sesak napas dan berkeringat. Wanita mungkin kurang mengalami tanda-tanda khas serangan jantung dibanding laki-laki, termasuk mual dan sakit punggung atau rahang. Kadang-kadang serangan jantung terjadi tanpa ada tanda-tanda atau gejala yang jelas.
Adapun hal-hal yang memicu terjadinya jantung koroner menurut Brian dalam Medicastore (2009) adalah sebagai berikut :
a.       Merokok dalam jumlah yang banyak dan selama bertahun-tahun
b.      Konsumsi makanan yang berlemak atau berkolesterol tinggi
c.       Hipertensi yang telah diderita
d.      Diabetes mellitus juga memancing timbulnya penyakit jantung koroner
e.       Obesitas
f.       Kurang beraktivitas dan berolahraga
g.      Minum minuman beralkohol
h.      Penyalahgunaan obat (narkoba)
Untuk mendiagnosa penyakit jantung koroner, terlebih dahulu petugas kesehatan akan bertanya tentang riwayat kesehatan klien, melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah rutin. Tenaga kesehatan juga akan menyarankan satu atau lebih tes diagnostik juga, termasuk:
a.       Elektrokardiogram (EKG). Elektrokardiogram mencatat sinyal listrik ketika mereka bergerak melalui jantung. EKG sering mengungkapkan bukti dari serangan jantung sebelumnya atau dalam perkembangan. Dalam kasus lain, Holter monitoring mungkin disarankan. Dengan EKG jenis ini, klien memakai monitor portabel selama 24 jam saat klien menjalani aktivitas normal. Kelainan tertentu mungkin menunjukkan aliran darah tidak memadai untuk jantung.
b.      Echocardiogram. Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung. Selama ekokardiogram, petugas kesehatan dapat menentukan apakah semua bagian dari dinding jantung berkontribusi biasa dalam aktivitas memompa jantung. Bagian yang bergerak lemah mungkin telah rusak selama serangan jantung atau menerima terlalu sedikit oksigen. Ini mungkin menandakan penyakit arteri koroner atau berbagai kondisi lain.
c.       Tes stres. Jika tanda-tanda dan gejala paling sering terjadi selama oalh raga, dokter mungkin meminta Anda untuk berjalan di atas treadmill atau naik sepeda statis selama EKG. Hal ini dikenal sebagai olah raga tes stres. Dalam kasus lain, obat untuk merangsang jantung Anda dapat digunakan sebagai pengganti olah raga.
Tes stres lain dikenal sebagai tes stres nuklir membantu mengukur aliran darah ke otot jantung Anda saat istirahat dan selama stres. Hal ini mirip dengan tes tekanan olahraga rutin tetapi dengan gambar di samping EKG. Jejak jumlah bahan radioaktif - seperti talium atau suatu senyawa yang dikenal sebagai sestamibi (Cardiolite) - yang disuntikkan ke dalam aliran darah. Kamera khusus dapat mendeteksi daerah-daerah dalam jantung yang menerima kurang aliran darah.
d.      Koroner kateterisasi. Untuk melihat aliran darah melalui jantung, petugas kesehatan mungkin menyuntikkan cairan khusus ke dalam pembuluh darah (intravena). Hal ini dikenal sebagai angiogram. Cairan disuntikkan ke dalam arteri jantung melalui pipa panjang, tipis, fleksibel (kateter) yang dilewati melalui arteri, biasanya di kaki, ke arteri jantung. Prosedur ini dinamakan kateterisasi jantung. SPewarna menandai bintik-bintik penyempitan dan penyumbatan pada gambar sinar-X. Jika memiliki penyumbatan yang membutuhkan perawatan, balon dapat didorong melalui kateter dan ditiup untuk meningkatkan aliran darah dalam jantung. Sebuah pipa kemudian dapat digunakan untuk menjaga arteri melebar terbuka.
e.       Tteknologi CT scan. Computerized tomography (CT) , seperti berkas elektron computerized tomography (EBCT) atau CT angiogram koroner, dapat membantu dokter Anda memvisualisasikan arteri Anda. EBCT, juga disebut sebagai ultrafast CT scan, dapat mendeteksi kalsium dalam lemak yang sempit arteri koroner. Jika sejumlah besar kalsium ditemukan, penyakit arteri koroner mungkin terjadi. CT angiogram koroner, di mana Anda menerima pewarna kontras yang disuntikkan secara intravena selama CT scan, juga dapat menghasilkan gambar dari arteri jantung.
f.       Magnetic Resonance angiogram (MRA). Prosedur ini menggunakan teknologi MRI, sering digabungkan dengan menyuntikkan zat warna kontras, untuk memeriksa area penyempitan atau penyumbatan - meskipun rincian mungkin tidak sejelas yang disediakan oleh kateterisasi koroner (Medicastore, 2009).

Demonstrasi

DEMONSTRASI SALAH SATU BENTUK TRADISI KRITIS

Didalam Teori Komunikasi terdapat tujuh tradisi, Dimana ini sering digunakan oleh manusia dalam kehidupan / kegiatan sehari - hari, entah sengaja maupun tidak.Ketujuh tradisi tersebut adalah :
l. Tradisi Retorika
2. Tradisi Semiotis
3. Tradisi Fenomenologis
4. Tradisi Sibernetis
5. Tradisi Psikologisosialis ,
6. Tradisi Sosiokultur
7. Tradisi Kritis

Dalam makalah ini penulis tidak menjelaskan semuanya, tetapi hanya sebagian tradisi saja, dirnana tradisi tersebut dipakai / digunakan ( sering ) didalam kegiatan Demonstrasi. Sesuai dengan judul diatas.
Demonstrasi memiliki arti : protes keras tentang ketidak adilan atau penyelewengan / aksi keras menolak keputusan tertentu, dimana Demonstrasi ini dilakukan oleh banyak orang, masyarakat.
Belakangan ini rezim pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presidenya M. Jusuf Kalla sering diguncang demo oleh para Ma.hasiswa / Rakyat Indonesia, dimana rakyat / mahasiswa menentang keputusan Pemerintah yang menaikan harga Bahan Bakar Minyak ( BBM ). Sebab dengan dinaikkannya BBM, efeknyapun sampai kemana - mana. Hal ini malah menambah beban rakayat saja. Maka dari itu anyak para mahasiswa yang turu kejalan untuk berdemonstrasi. Hal in pun terhadi di berbagai kota, dan salah satunya kota jogja ini.
Dalam aksi Berdemonstrasi biasanya sudah tersusun secara sistematis, dalam arti direncanakan. Bahkan ada juga yang telah diprovokasikan. Didalam kegiatan de°monsyrasi ini ( dilapangan ) ada salah seorang ( terkadang juga lebih ) yang melakukan orasi, adajuga yang membawa spanduk - spanduk yang bertajuk mengkritisi. Dalam hal ini seseorang yang berorasi harus memiliki kepandaian dalam berbicara / pidato, jadi tigak asal ngomong, jadi perkataannya mengena pada suatu kebenaran. Hal ini bisa kita masukkan kedalam tradisi retorika. Retorika berkaitan dengan ilmu berbicara / pidato, jadi sebagai orator dalam berdemonstrasi hendaknya memiliki / menguasai retorika yang baik.
Dan juga Demonstrasi itu sendiri bisa kita katakana sebagai tradisi kritis. Mengapa demikian, sebab para bemonstran itu sendiri sangat I benar - nemar kritis / peka terhadap apa yang terjadi dilingkungan / kehidupan ( bangsa ini ). Mereka mengkritisi keputusan Pemerintah tersebut sebagai kritikan dimana Pemerintah malah menambah beban rakyat ( pada kasus di atas )

Minggu, 03 Februari 2013

Motivasi Belajar

Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik (2003:158) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks.

Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.

Dalam A.M. Sardiman (2005:75) motivasi belajar dapat juga diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelak perasaan tidak suka itu.

Menurut Siti Sumarni (2005), Thomas L. Good dan Jere B. Braphy (1986) mendefinisikan motivasi sebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya. 
Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel Siti Sumarni (2005), motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.

Pengertian belajar menurut Morgan, mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Wisnubrata, 1983:3). 

 Sedangkan menurut Moh. Surya (1981:32), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.

Dari uraian yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.