Kamis, 21 Februari 2013

Analisis Prilaku Membolos

Berdasarkan kasus pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswa sekarang ini, diantaranya membolos pada saat jam sekolah masih berlangsung sering terjadi. Seperti yang ada pada harian “Kedaulatan Rakyat” tanggal 4 Desember 2008 menjelaskan tentang diadakanya sweeping pelajar guna menekan siswa-siswa yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dengan berkeliaran ditempat-tempat umum pada saat jam pelajaran, disambut positif oleh kepala SMK dan SMA di Yogyakarta dan Bantul.
Dalam kasus ini pemerintah muhammadyah 3 membentuk tim khusus untuk memantau keberadaan siswa di radius 2 s/d 4 Km diluar lingkungan sekolah pada saat jam-jam pelajaran sekolah sedang berlangsung. Kemudian akan memberikan sanksi kepada siswa-siswi yang terjaring diantaranya pemberian sanksi itu berupa, pemberian teguran, pemberian poin sampai memajang nama-nama siswa-siswi pelanggar tersebut dipapan pengumuman untuk memberi efek jera. Ungkapan serupa juga diungkapkan kepala SMKN 3 Kasihan Bantul (Sekolah Menengah Seni Rupa/SMSR) mengatakan sweeping yang dilaksanakan pemerintah daerah sangat diperlukan namun apabila hanyak pihak sekolah yang di berikan tanggung jawab penuh maka bisa maksimal oleh karena itulah perlu adanya bantuan masyarakat dan pemerinta daerah setempat.
Disini penulis beranggapan bahwa intervensi yang dilakukan dengan cara sweeping terhadap siswa-siswi yang terjaring membolos pada saat jam-jam sekolah cukup baik hanya saja penulis merasa bahwa hal-hal atau kegiatan seperti sweeping tersebut hanya akan mengurangi perilaku membolos para siswa-siswi tetapi tidak menghilangkan perilaku membolos tersebut dikarenakan siswa pasti akan berusaha untuk bisa menghindar dari sweeping tersebut.
Dengan kata lain perlu diadakanya intervensi-intervensi lain yang memungkinkan untuk dapat menghilangkan budaya atau kebiasaan membolos para siswa-siswi yang sedang gencar-gencarnya dalam dunia pendidikan di indonesia sekarang ini.
Penulis menganggap bahwa kasus atau masalah membolos siswa-siswi ketempat-tempat umum pada saat jam sekolah masih berlangsung adalah suatu hal yang sangatlah memperhatinkan dalam dunia pendidikan untuk memajukan sumberdaya manusia yang baik dan berkualitas khususnya di indonesia.
Oleh karena itu penulis akan mencoba mengkaji permasalah tersebut dan mencoba berargumentasi berdasarkan refrensi atau sumber-sumber yang berkompeten dan akan mencoba memberikan intervensi yang diharapkan membantu menghilangkan budaya atau kebiasaan membolos siswa-siswi.

ANALISIS KASUS

Membolos, menurut Hurlock terdapat dua jenis membolos. Yang pertama, anak absen disekolah tanpa sebab yang sah dan tanpa izin orang tua atau pimpinan sekolah. Mereka pergi sesuka hati mereka tanpa terlihat orang tua, tetangga atau guru, dan kepala sekolah. Mereka mungkin meninggalkan sekolah pada waktu siang hari, sambil mengeluh bahwa mereka “merasa tidak enak badan” atau bahwa orang tua menyuruh mereka pulang secepat mungkin. Karena selalu terdapat kemungkinan bahwa orang tua akan diberitahu bila seorang anak meninggalkan sekolah pada waktu siang, si pembolos biasanya tidak masuk sekolah sepanjang hari. Pada jenis membolos yang kedua, seorang anak biasanya meninggalkan sekolah sepengetahuan dan seizin dari orang tua. Ini sering kali halnya dengan anak yang berasal dari kelompok sosioekonomi rendah, yang orang tuanya sedikit menghargai pendidikan atau yang ingin anaknya membantu dirumah atau meninggalkan sekolah untuk sesegera mungkin mencari pekerjaan. Sebagian besar anak putus sekolah berasal dari kelompok ini.
Banyak hal-hal atau faktor yang mendorong anak sering membolos, tetapi disini penulis lebih tertarik terhadap beberapa faktor diantaranya adalah faktor minat, faktor perkembangan, faktor lingkungan sosial.

Faktor Minat
Disini Minat terhadap sekolah juga sangat berperan untuk anak terhadap kebiasaan membolos. Apabila minat anak terhadap sekolah baik maka perilaku tersebut tidak akan dilakukan si anak tersebut. Seperti hal nya membolos tersebut diatas adalah suatu gambaran bagaimana kurangnya minat dari anak terhadap sekolahnya sehingga dia akan menggunakan berbagai alasan dan upaya untuk meninggalkan sekolah. Penulis ingin mencoba merinci hal-hal yang dapat menghilangkan minat tersebut diantaranya faktor fisik sekolah (Gedung), guru, Aturan yang berlebihan, ketidakadilan, suasana lingkungan sekolah yang kurang kondusif, kurangnya kegiatan extra.

Faktor Perkembangan,
Dalam faktor ini perkembangan yang mempengaruhi perilaku membolos adalah perkembangan pada masa kanak-kanak yang menurut Hurlock terjadi pada masa perkembangan kreativitas, pada masa ini anak mempunyai beberapa cara yang paling umum digunakan anak untuk mengekspresikan kreativitasnya yaitu, Animisme, Bermain Drama, Permainan Konstruktif, Teman Imajiner, Melamun, Melucu, Bercerita. Dari kesemuanya itu Hurlock menerangkan perilaku membolos bisa dilihat pada saat anak melamun. Ada 3 kategori melamun yaitu melamun menjadi pahlawan super, melamun menjadi pahlawan yang menderita dan melamun menderita penyakit atau gangguan imajiner.
Membolos sekolah karena penyakit imajiner (ilegal) meningkat dengan menonjol pada saat awal remaja anak laki-laki dan perempuan, dalam Hurlock, (Diambil dari K.D. Rogers and G. Reese: Helath studies-presumably normal high school students.II. Absence from school. American Journal of Diseases Children, 1965, 109, 9-27.). Berdasarkan hal tersebut diatas penulis beranggapan bahwa untuk mengidentifikasikan perilaku tersebut bisa dilihat sejak usia dini tergantung dari orang tua si anak dalam membantu anak pada masa-masa tersebut.

Faktor Lingkungan sosial
Penulis beranggapan perilaku membolos tersebut juga di pengaruhi faktor-faktor sosial individu tersebut, baik faktor internal maupun eksternal. Lingkungan sosial akan berdampak sangat hebat dalam perilaku remaja, yang menurut Erikson remaja adalah masa-masa pencarian Identitas diri. Disini faktor konformitas sosial juga sangat berpengaruh khusunya dalam kohesivitas kelompok, dimana anggota-anggota kelompok cenderung tertarik kepada tugas-tugas kelompok, dan apabila aktivitas kelompok itu negatif seperti halnya membolos maka anak tersebut akan terpengaruh dan ikut membolos agar dianggap layak diterima dalam kelompok tersebut. Ada dua jenis sikap menurut Jung (dalam buka Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, Gerald Corey) menyatakan bahwa sikap ekstravert mengarahkan seseorang kepada dunia eksternal dan objektif sedangngkan Introvert mengarahkan seseorang kepada dunia internal dan subyektif. Atas dasar kedua sikap tersebut penulis menganggap bahwa individu yang ekstravert akan mudah diajak untuk membolos. Karena dia akan lebih mementingkan hal-hal yang ada disekitarnya saat itu.
Kembali pada kasus diatas tentang intervensi yang dilakukan dalam pembinaan pelanggaran kepada siswa-siswi yang membolos dengan cara melakukan sweeping pada jam-jam sekolah berlangsung adalah merupakan salah satu upaya pemerintah daerah dalam mengatasi perilaku membolos pada siswa-siswi sekarang ini. Penulis pun akan mencoba memberikan intervensi yang memiliki tujuan yang sama namun mungkin belum diterapkan pada saat sekarang ini.

INTERVENSI

Berdasarkan dari analisis kasus diatas penulis beranggapan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perilaku membolos tersebut dan jika hanya mengandalkan suatu intervensi seperti halnya sweeping akan kurang efektif namun penulis tidak mencela kegiatan yang sudah dilakukan tersebut, hanya saja disini penulis ingin menambahkan beberapa intervensi yang memungkin kan untuk tidak saja hanya mengurangi namun menghilangkan budaya membolos tersebut. Diantarnya yaitu :

Peran OrangTua
Disini peran orang tua diperlukan sebagai dasar atau landasan bagi si anak dalam berperilaku kelak. Orang tua diharapkan mampu mengoptimalisasikan tahap-tahap perkembangan anaknya serta menaruh perhatian khusus terhadap proses perkembangan anak terhindar dari maladptive khususnya dalam perkembangan kognitif anak tersebut, disarankan orang tua selalu membantu anak dalam memberikan pengertian-pengertian, norma-norma dalam kognisi si anak dan mau mendengarkan apa yang diungkapkan oleh anak.
Orangtua juga harus memperhatikan kebutuhan si anak, menanamkan sesuatu yang positif tentang sekolah dan pentingnya pendidikan saat usia dini. Sehingga pada saat anak tersebut masuk masa-masa sekolah anak mempunyai persepsi yang baik terhadap sekolah.
Orangtua juga tidak boleh memaksakan semua yang dikehendakinya dilakukan oleh si anak, tetapi orangtua harus mengetahui minat anak dan bakat anak tersebut mungkin bisa dengan cara meminta bantuan ke psikolog dalam hal ini. Pada saat pemilihan sekolah atau jurusan pun sebaiknya kembali dirundingkan dengan si anak, apakah sesuai dengan minat anak tersebut atau tidak. Dan yang tak kalah penting memperhatikan lingkungan pergaulan si anak, disini sesuai dengan konsep utama Adler tentang pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat berperan penting dalam perkembangan gaya hidup si anak tersebut.

Peran sekolah dan Guru
Peran sekolah yang diperlukan sebagai suatu intervensi adalah dengan membuat aktifitas-aktifitas ekstra kulikuler yang beragam, tidak terlalu menekan siswa terhadap aturan-aturan yang justru akan membuat anak tersebut berusaha melanggarnya dengan berbagai alasan, merenovasi gedung sekolah, ruang kelas, halaman sekolah, fasilitas-fasilitas akademik dan non akademik, sehingga membuat anak merasa betah dan nyaman berada dilingkungan sekolah(meningkatkan sarana dan prasarana).
Sedangkan peran guru adalah sebagai motivator terhadap siswa-siswi. Guru dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut teacher itu memang memiliki makna sederhana, yakni A person whose occupation is teaching others (McLeod, 1989, dalam psikologi pendidikan dengan pendekatan baru Muhibbidin Syah).
Tetapi disini penulis mencoba menjelaskan arti guru lebih mendalam yaitu, guru sebagai seorang figur yang dapat membantu, mendidik baik dalam segi moral, etika, serta memotivasi dan menjadi contoh untuk siswa-siswi dalam proses pencarian suatu identitas diri.
Oleh karena itulah penulis ingin menjelaskan bahwa guru berperan untuk bisa membuat anak menghilangkan perilaku membolosnya, dalam hal ini guru diharapkan mampu bertindak Adil, pandai memilih metode dalam mengajar sesuai dengan yang cocok untuk siswa, membawa suasana kelas positif, serta mau mendengarkan segala keluhan siswa-siswi yang sedang mempunyai masalah. Dengan begitu siswa akan senang berada disekolah dengan alasan bahwa disekolah dia bisa mendapatkan apapun baik secara fisik maupun psikis serta menganggap sekolah tersebut adalah rumah kedua bagi dirinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar